untuk mu buah hatiku….

Posted in Renungan Astrajingga on November 11, 2009 by narcistastrajingga

old_man_and_hour_glass

Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu,

Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,

Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,

Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Di saat daku dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu,

Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku.

Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah daku ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Di saat daku membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku.

Ingatkah masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Di saat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan tekhnologi modern,

Janganlah mentertawaiku.

Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.

Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,

Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.

Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita,

Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.

Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,

Asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.

Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku. Berilah daku kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur. Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.

With love…
PAPA

my way….

Posted in Uncategorized on September 18, 2009 by narcistastrajingga

dip10-hiker_39839gm-e

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, Ill say it clear,
Ill state my case, of which Im certain.


Ive lived a life thats full.
Ive traveled each and every highway;
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, Ive had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

Hiker heading up large sand dune at White Bluffs-Vert

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.


Yes, there were times, Im sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

hiker-silhouettes-1-big.jpg

Ive loved, Ive laughed and cried.
Ive had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.


To think I did all that;
And may I say – not in a shy way,
No, oh no not me,
I did it my way.

hiker-sil-3-big.jpg

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -

hiker-silhouettes-3-big.jpg
And did it my way!

…………., (2)

Posted in Celoteh Astrajingga on September 18, 2009 by narcistastrajingga

sunrise_over_mediterranean_sea

kembali dalam kesendirian

menatap senja yang beranjak malam

berkawan laut, matahari, dan camar yang pulang

mencari sisa bayangmu dalam deburan ombak

sekejap angin laut antarkan harum tubuh mu

saat kau tertawa di sisiku.

saat ku berkabung atas matinya cinta

tatapan mu mampu sembuhkan luka yang belum mengering

mungkin Tuhan kirim mu untuk ku

keluguanmu hancurkan kesombonganku

kerling manjamu hancurkan ego yang menahun

andai kamu tahu…..

sejak senja itu semuanya tak lagi sama

kumemiliki rindu yang kau tidak mengetahuinya

karena kau terlalu lugu untuk mengetahuinya.

terlalu muda tuk memahaminya

kembali dalam kesendirian

menatap senja yang beranjak malam

berkawan laut, matahari, dan camar yang pulang

berharap Tuhan sampaikan rindu ini untuk mu

…………,

Posted in Perjalanan Astrajingga on September 16, 2009 by narcistastrajingga

asian-girl-painting-017

dia datang senja itu….

harum seperti angin yang membawa bau rumput sehabis hujan

tanpa kata, tanpa cerita.

membiusku dalam hipnotis yang indah

dia tersenyum senja itu

cantik, seperti camar putih yang terbang menuju pelangi

tanpa kata, tanpa cerita.

dalam iringan tetabuhan detak jantungku

asian-girl-painting-001

dia menatapku senja itu….

hadirkan kehangatan dalam gerimis bandung yang dingin

seperti bintang, diantara gelap malam.

hempaskan keberanianku, walau hanya untuk menatapnya

Tuhan…katakan padanya,

bahwa dia begitu cantik senja itu…

kasih Ibu….

Posted in Uncategorized on September 11, 2009 by narcistastrajingga

Cinta-Ibu_1

Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak lelaki satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak kelakuan lainnya yang membuat si Ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Meskipun hidup anaknya dipenuhi oleh kejahatan, ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi.

Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.” Namun semakin lama kehidupan sang Anak semakin larut dalam perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang telah dilakukannya.

Suatu hari kembali ia mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun perbuatannya dipergoki oleh warga dan iapun tertangkap. Kemudian ia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan seringnya kejahatan yang dilakukannya, maka tanpa ampun lagi si Anak dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman hukuman tersebut disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat tepat pada saat lonceng gereja dibunyikan menandakan pukul enam pagi.

Berita itu sampai juga ke telinga sang Ibu. Dia menangis meratapi anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, ampunilah anak hamba. Biarlah hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya.” Dengan tertatih-tatih sang Ibu kemudian mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sang Raja sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukumannya. Dengan hati yang hancur si Ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni. Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong datang untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua. Tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng gereja tidak juga terdengar berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit terlewati dari batas waktu yang seharusnya. Akhirnya didatangilah petugas yang bertugas membunyikan lonceng gereja. Dia juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi suara dentangnya tidak terdengar.

Ketika mereka sedang terheran-heran karena keanehan yang sedang terjadi, tiba-tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah. Darah tersebut datangnya dari atas, dari tempat di mana lonceng diikat. Seluruh rakyat pun mulai berkumpul menyaksikan keanehan tersebut dan orangpun diutus untuk naik ke atas dan menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang mereka temukan? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh sang ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si Ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung yang akan dijalani anaknya.

Demikianlah, sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya betapapun jahatnya si anak. Marilah kita mengasihi orangtua kita masing-masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia. Sesuatu untuk dijadikan renungan bagi kita agar selalu mencintai sesuatu yang berharga dan tidak bisa dinilai dengan apapun.

ibu2

ilalang for you…

Posted in Perjalanan Astrajingga on September 10, 2009 by narcistastrajingga

ILALANG-2-ELLE

satu lagi musim berlalu

melewati padang ilalang senja itu.

tanpa kata, …beranjak perlahan

meninggalkan kisah yang tak tertulis…

namun tersimpan dalam tarian ilalang senja…

berharap malam kan renggut semua sepi….

membawa pagi dalam cerita yang baru.

walau terbungkam….

ku masih bisa mendengarnya,

saat ilalang menari…..

saat ilalang berbisik…..

tentang kisah yang tak pernah pergi.

namun tersimpan erat dalam tarian ilalang senja…

1280_1024_nature_wallpaper_106320843

pulang untukku…

Posted in Perjalanan Astrajingga on September 9, 2009 by narcistastrajingga

in_thy_tender_care_lawrence_l

kembali dalam persimpangan yang memabukkan.

meniti perjalanan dalam penantian.

sungguh tak mudah mengikuti jalan MU

mengikuti cara MU

mengikuti kasihMU ya Bapa

ku tak ingin menyakiti siapapun…

ku hanya ingin mengasihi.

dalam dunia kecil yang penuh damai…

ada tawa. kebahagiaan…bukan kesedihan dan keluh kesah.

pergumulan akan ketulusan seperti perang abadi.

tapi ku tahu…

Kau mencintaiku lebih dulu

Kau mengampuniku Lebih dulu

Kau mengasihiku lebih dulu…

bahkan Kau serahkan dirimu di atas kayu salib untuk selamatkan ku.

Ampuni aku yang masih gagal mengampuni

ampuni aku yang masih begumul dengan ketulusan

sentuh aku, genggam tanganku Bapa…

karena ku lebih memilih pulang kepada Mu…

dari pada nikmat yang memabukkan ini.

yang bukan dari pada MU.

cinta Bapa….

Posted in Renungan Astrajingga on May 22, 2009 by narcistastrajingga

Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya;  (Mazmur 94 :14)

Pada tanggal 7 Desember 1998 di bagian utara Armenia, suatu gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter menghancurkan sebuah gedung sekolah diantara bangunan-bangunan lainnya. Di tengah keramaian dan suasana panik, seorang bapak berlari menuju ke sekolah tersebut, dimana anaknya menuntut ilmu setiap harinya. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya itu, “Hai anakku, apapun yang terjadi, papa akan selalu bersamamu!”
Sesampainya di tempat di mana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total! Pertama-tama ia hanya berdiri saja di sana sambil menahan tangis. Namun kemudian…tiba-tiba ia pergi ke bagian sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan hanya menggunakan tangannya sendiri ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk di sana. Ada seseorang yang
sempat menegurnya, “Pak, itu tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati.”
Bapak itu menjawab, “Kamu bisa berdiri saja di sana, atau kamu bisa membantu mengangkat batu-batu ini!” Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka capek dan menyerah. Sebaliknya, si bapak tidak bisa berhenti memikirkan anaknya, maka ia menggali terus.
Dua jam telah berlalu, lalu lima jam, sepuluh jam, tigabelas jam,
delapan belas jam. Lalu tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian dari papan itu, dan berteriak, “Armando!”, dan dari kegelapan di bawah itu terdengarlah suara kecil, “Papa!”. Kemudian terdengarlah suara-suara yang lain sementara anak-anak yang selamat itu ikut berteriak!

Semua orang yang ada di sekitar reruntuhan itu, kebanyakan para orang tua dari murid-murid itu, kaget dan bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan mereka. Mereka menemukan 14 anak yang masih hidup itu! Pada saat Armando sudah selamat, dia membantu untuk menggali dan mengangkat batu-batu sampai teman-temannya sudah diselamatkan semua. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya itu, “Lihat, aku sudah bilang kan, bahwa papaku pasti akan datang untuk menyelamatkan kita!”
Mari kita renungkan bagaimana kita menjalani hidup kita. Di saat kita dalam kegelapan, tertimpa oleh macam-macam beban masalah, jatuh dalam kelemahan dan dosa. Apakah kita lantas berkeluh kesah, putus harapan, dan lantas mengibarkan bendera putih pada dunia tanda menyerah? Ataukah kita akan bersikap seperti Armando, yang terus menggenggam HARAPAN? bahwa Seseorang sedang mencari kita dan siap menyelamatkan kita? Seseorang yang tak akan pernah menyerah sampai kita sudah di dalam pelukan-Nya?

Perempuan itu adalah ibuku

Posted in Renungan Astrajingga on November 25, 2008 by narcistastrajingga

Perempuan itu bernama kesabaran
Pabila malam menutup pintu-pintu rumah
Masih saja dia duduk menjaga
Anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan itu menangguhkan segalanya
Bagi impian-impian yang mendatang
Telah memaafkan setiap dosa dan
Kenakalan anak-anak sepanjang zaman

Perempuan itu adalah ibuku

Bagi siapa Tuhan menerbitkan matahari surga
Bagi siapa Tuhan memberikan singgasana-Nya
Dan dengan segala ketulusan ia membasuh
Setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibuku

Kuasa Tuhan

Posted in Renungan Astrajingga on November 17, 2008 by narcistastrajingga

~~ CERITA DARI AFRIKA ~~

Suatu malam saya bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit, tapi apapun yang kami lakukan, dia meninggal dan meninggalkan bayi
premature yang sangat mungil serta seorang anak perempuan usia 2 tahun yang menangis.

Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, Karena kami tidak punya incubator ( kami tidak punya listrik untuk Menyalakan incubator), kami juga tidak punya makanan khusus bayi.

Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa, di malamhari seringkali udara sangat dingin dan anginnya kencang.

Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkus bayi dengan kain wol. Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas. Kemudian muridku yang mengisi botol air panas segera kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa saat mengisi botol itu dan ternyata meledak (Karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis)

“Dan ini adalah botol air panas terakhir kita,” dia berseru.

“Oke,” kataku, “taruh bayi itu didekat api dalam jarak yang cukup aman, dan tidurlah diantara bayi itu dan pintu untuk menjaga nya dari angin. Tugasmu adalah menjaga bayi tetap hangat.”

Siang hari berikutnya, seperti hari sebelumnya, Aku pergi berdoa dengan beberapa anak yatim piatu yang berkumpul denganku. Aku berikan mereka bermacam-macam saran untuk mendoakan dan bercerita pada mereka tentang bayi mungil itu.

Aku menceritakan masalah kami soal menjaga bayi supaya cukup hangat, menyebutkan tentang botol air panas, dan bagaimana bayi itu bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Saya juga bercerita pada mereka tentang saudara perempuannya yang berumur 2 tahun, yang menangis karena ibunya meninggal.

Selama berdoa, seorang gadis usia 10 tahun, Ruth, berdoa dengan doa singkat seperti anak Afrika kami.

“Tolong, Tuhan” dia berdoa, “kirim kan botol air. Tidak baik besok, Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini.”

Saat aku menarik napas dalam hati karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan, “Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bhw Engkau sungguh mengasihinya? “

Seringkali dalam doa anak-anak, aku merasa ditempatkan pada pusatnya. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, “Amin”. Oya aku tahu bahwa Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, kan ? (pikiran manusia selalu ingin membatasi kuasa Tuhan)

Dan menurutku satu-satunya jalan Tuhan dapat menjawab doa-doa kami yaitu jika keluargaku di Amerika mengirimi bingkisan. Namun aku sudah tinggal selama hampir 4 tahun, dan tidak pernah, sama sekali menerima bingkisan dari rumah. Tapi, bila sesorang mengirimiku bingkisan, siapa yang akan memberi botol air panas. Sebab aku tinggal di daerah tropis!

Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parcel dikirimkan dengan mobil di depan pintu rumahku.

Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi di sana , di beranda, ada dua puluh dua pon parcel yang sangat besar. Aku merasa pedih di mataku…

Aku tidak dapat membuka parsel itu sendirian, jadi aku meminta ke anak-anak yatim piatu untuk membantuku. Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Kami melipat kertasnya, supaya tidak menyobeknya. Kegembiraan meningkat. Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. Dari atas, kami mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah. Mata kami langsung silau melihatnya. Ada perban rajutan untuk pasien kusta, dan anak-anak mulai terlihat sedikit bosan. Lalu ada sekotak kismis, ini bisa dipakai untuk membuat setumpuk kue kismis di akhir pekan.

Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, aku merasa …. benarkah ini?? Aku menariknya keluar …. yaa …. Ini baru, botol air panas karet. Aku menangis terharu. Aku tidak meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku tidak percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya. Ruth ada di barisan depan dari anak2. Ia cepat2 maju, sambil menangis, ” Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia harus mengirim bonekanya juga!”

Sambil mengobrak-abrik bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah. Matanya berkilau ! Dia tidak pernah sangsi! Sambil melihatku, dia berkata : ” Dapatkah aku pergi bersamamu & memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu, Yesus sangat mencintainya? ?

Ternyata parcel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Dibungkus oleh Siswa Kelas Hari Mingguku, yang mana saat mempersiapkan parcel itu, Tuhan telah memerintahkannya juga untuk mengirimi botol air panas walaupun di daerah Tropis. Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan ke anak Afrika -

Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya “sore itu”.

(Yesaya 65:24) :
“Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah
mendengarkannya. ”