Saepudin bin Mahmud
disini
sabtu siang yang panas,
tempat tandus dipingiran dari pingiran kota.
diantara deru mesin dan kepulan debu
dengarkan nyanyian Amran dan Jalil
segelas kopi diatas traffo las
pesta kecil untuk lembur di hari sabtu
di sini
matahari begitu bersemangat
pancarkan panas nya. berbaur dengan bau logam panas yang terbakar.
antarkan senyum anakku.
jika kutepati janjiku. belikan baju pramuka .
oh lembur sabtu yang indah.
di sini.
akhirnya matahari pun capek.
tangan ku menari dalam setiap kawat las yang kutoreh.
sementara Jalil masih berdendang.
lagu melayu kenangan kita,
waktu jalan berdua di pinggir rel.
hingga kita membesarkan si mamat anak kita.
aku pulang sayang.
dengarkan keluh kesahmu
menatap bibirmu yang monyong.
kopi tanpa gula karena gula habis.
di istana kita yang pengap dan panas.
bahkan air sumurpun kering.
aku ada uang lembur,……..bisik ku lirih.
ku tahu bantalmu basah oleh air matamu.
kutatap punggungmu.
tunggakan warung matikan birahimu.
seolah kau tak mengerti.
beha mu yang tergantung di ujung ranjang.
tersenyum mengejek pada ku.
edi satpam selamatkan ku
datang bawa berita mesin pabrik yang rusak.
semboyan loyalitas antar ku kembali melangkah bekerja.
tanpa kecupan manis dari bibirmu.
hanya setengah gelas kopi dingin tanpa gula
di sini
di penghujung malam saat matahari terlelap
jalil menyambutku dengan giginya yang kuning.
senyum kemenangan.
jam lembur bertambah.
entah untuk apa……
entah untuk siapa…
baju pramuka, tunggakan warung, bayar kontrakkan?
yang pasti bukan untuk secangkir starbucks.

March 28, 2008 at 2:31 am
hiks..indah, tapi tetap menohok nalar kemanusiaan di kepalaku
April 4, 2008 at 7:21 am
ini teh puitis tapi sumpah gw ga ngerti
emang ga bisa berpuisi kali ye? selalu nyari inti permasalahannya.. hihi.. jalil teh saha? nu mana tea? ga penting banget yak komen nya..
September 1, 2009 at 4:01 pm
Heu heu, sedih tapi lucu jd nangis nya sambil ketawa aja ya
September 9, 2009 at 3:11 pm
nice one.. tp knp starbucks dbawa2!? iklaaaan!! he he