
pagi itu ketika BBM naik………
chika anakku, menanti air yang mengucur kecil di kran air kamar mandi, karena harus berbagi dengan 10 kepala keluarga di asrama kepolisian di sudut Jakarta.
“Papa kapan kita jalan ke Mall lagi?”
“Nanti sayang, kalau papa sudah punya uang”, jawabku sambil menatap bola matanya yang cantik.
sementara Istriku menghantarkan secangkir air putih.
“Gas habis mas, sekarang susah di cari.” bisiknya lirih.
Ku bergegas mandi tanpa Kopi.
pagi itu ketika BBM naik……..
Chika bermain dengan bonekanya yang sudah kumal.
“Papa mau jaga demo lagi ya ?”
“Nanti Papa Masuk Tv ? atau cuma kakak kakak Mahasiswa yang Masuk Tv?
aku hanya membalasnya dengan senyum getir.
Lastri Istriku menatap khawatir, ” Sampai kapan mereka demo Mas?”
” Entah lah dik” jawabku datar
” Hati hati mas, kulihat di Tv mereka lempari bom molotov”, serunya pelan.
ada ketakutan di matanya, seperti ketakutan di hatiku
“Hutang kita di warung depan sudah banyak mas, dan harga harga sudah naik.”
” Kita bayar saat terima gaji ya dik,”
Siang Itu ketika BBM Naik………
Mahasiswa marah dan semakin marah
mereka memblokir jalan dan membakar Ban
Matahari menyengat membakar kepala.
kucoba untuk tidak terpancing
walau ku marah karena kami di lempari batu
“Apa salahku ?” gumamku
“Bukan aku yang naikan BBM. kenapa Aku yang kalian lempari?”
“Tidak mengertikah kalian , bahwa aku disini hanya menjalankan Tugas”
“sama seperti kalian, aku pun kepanasan, kami pun lapar”
” Sama seperti kalian, aku pun mersakan naiknya harga harga”
“tugasku mengamankan jalannya demonstrasi agar tidak merusak”
“tugas kalian adalah meneriakkan suara nurani, suara moral, suara kaum yang terpelajar”
“Jangan lempari Kami dengan batu”
“Kami bukan Musuh Kalian”
sebuah batu melayang tepat ke wajahku
gelap,….
gelap,..
sepi,…
dalam gelap kulihat Chika bermain di padang rumput hijau
dalam gelap kulihat Lastri tersenyum cantik,
begitu cantik
begitu damai.
begitu tenang.
Sore Itu ketika BBM naik……..
empat jahitan di pelipis kiriku
dalam perjalanan pulang.
terbayang wajah lastri tersenyum manis…….
“Gas habis mas, sekarang susah di cari.” bisiknya lirih.




