
dulu…
ibu melahirkanku di negeri ini.
negeri yang indah dan damai.
negeri yang makmur, negeri yang kaya.
negeri yang bernama Indonesia.

Ibu ajarkan ku ramah tamah dan toleransi
karena itu ciri budaya negeri ini.
santun dalam berkata dan menghormati yang tua
jujur dalam melangkah mewarisi sifat Luhur, sifat negeri Indonesia
ibu bercerita tentang lautan yang luas
hutan yang hijau, padi yang menguning.
terhampar di negeri impian bernama Indonesia
kini musim berganti
matahari terik membakar,
amarah hapuskan keramahan anak bangsa
santun dan toleransi menghilang
keserakahan membutakan nurani
hutan yang hijau tandus,
padi tak lagi menguning, nelayan tak lagi melaut
di suatu negeri yang bernama Indonesia
disudut negeri
ratusan jerigen mengantri seolah minyak bumi tak lagi untuk anak bangsa
saling bunuh demi sebungkus nasi
buruh buruh menjerit oleh beban hidup yang tinggi
anak anak bertajuk mahasiswa berteriak.
menyanyikan Indonesia Raya dengan amarah dan air mata.
di sudut negeri ini
istriku menatap layar televisi.
Demonstrasi, kekerasan, hedonisme, menjadi sajian utamanya
melihat mereka yang tertawa dalam suatu club malam
melihat mereka yang menangis karena suatu bencana
melihat mereka yang marah karena merasa tertindas
di suatu negeri yang bernama Indonesia
kini
dia menanti….
lahirnya anakku
yang akan tumbuh dan besar
di suatu negeri yang bernama Indonesia.