Archive for November, 2008

Perempuan itu adalah ibuku

Posted in Renungan Astrajingga on November 25, 2008 by narcistastrajingga

Perempuan itu bernama kesabaran
Pabila malam menutup pintu-pintu rumah
Masih saja dia duduk menjaga
Anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku

Perempuan itu menangguhkan segalanya
Bagi impian-impian yang mendatang
Telah memaafkan setiap dosa dan
Kenakalan anak-anak sepanjang zaman

Perempuan itu adalah ibuku

Bagi siapa Tuhan menerbitkan matahari surga
Bagi siapa Tuhan memberikan singgasana-Nya
Dan dengan segala ketulusan ia membasuh
Setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibuku

Kuasa Tuhan

Posted in Renungan Astrajingga on November 17, 2008 by narcistastrajingga

~~ CERITA DARI AFRIKA ~~

Suatu malam saya bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit, tapi apapun yang kami lakukan, dia meninggal dan meninggalkan bayi
premature yang sangat mungil serta seorang anak perempuan usia 2 tahun yang menangis.

Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, Karena kami tidak punya incubator ( kami tidak punya listrik untuk Menyalakan incubator), kami juga tidak punya makanan khusus bayi.

Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa, di malamhari seringkali udara sangat dingin dan anginnya kencang.

Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkus bayi dengan kain wol. Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas. Kemudian muridku yang mengisi botol air panas segera kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa saat mengisi botol itu dan ternyata meledak (Karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis)

“Dan ini adalah botol air panas terakhir kita,” dia berseru.

“Oke,” kataku, “taruh bayi itu didekat api dalam jarak yang cukup aman, dan tidurlah diantara bayi itu dan pintu untuk menjaga nya dari angin. Tugasmu adalah menjaga bayi tetap hangat.”

Siang hari berikutnya, seperti hari sebelumnya, Aku pergi berdoa dengan beberapa anak yatim piatu yang berkumpul denganku. Aku berikan mereka bermacam-macam saran untuk mendoakan dan bercerita pada mereka tentang bayi mungil itu.

Aku menceritakan masalah kami soal menjaga bayi supaya cukup hangat, menyebutkan tentang botol air panas, dan bagaimana bayi itu bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Saya juga bercerita pada mereka tentang saudara perempuannya yang berumur 2 tahun, yang menangis karena ibunya meninggal.

Selama berdoa, seorang gadis usia 10 tahun, Ruth, berdoa dengan doa singkat seperti anak Afrika kami.

“Tolong, Tuhan” dia berdoa, “kirim kan botol air. Tidak baik besok, Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini.”

Saat aku menarik napas dalam hati karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan, “Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bhw Engkau sungguh mengasihinya? “

Seringkali dalam doa anak-anak, aku merasa ditempatkan pada pusatnya. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, “Amin”. Oya aku tahu bahwa Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, kan ? (pikiran manusia selalu ingin membatasi kuasa Tuhan)

Dan menurutku satu-satunya jalan Tuhan dapat menjawab doa-doa kami yaitu jika keluargaku di Amerika mengirimi bingkisan. Namun aku sudah tinggal selama hampir 4 tahun, dan tidak pernah, sama sekali menerima bingkisan dari rumah. Tapi, bila sesorang mengirimiku bingkisan, siapa yang akan memberi botol air panas. Sebab aku tinggal di daerah tropis!

Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parcel dikirimkan dengan mobil di depan pintu rumahku.

Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi di sana , di beranda, ada dua puluh dua pon parcel yang sangat besar. Aku merasa pedih di mataku…

Aku tidak dapat membuka parsel itu sendirian, jadi aku meminta ke anak-anak yatim piatu untuk membantuku. Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Kami melipat kertasnya, supaya tidak menyobeknya. Kegembiraan meningkat. Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. Dari atas, kami mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah. Mata kami langsung silau melihatnya. Ada perban rajutan untuk pasien kusta, dan anak-anak mulai terlihat sedikit bosan. Lalu ada sekotak kismis, ini bisa dipakai untuk membuat setumpuk kue kismis di akhir pekan.

Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, aku merasa …. benarkah ini?? Aku menariknya keluar …. yaa …. Ini baru, botol air panas karet. Aku menangis terharu. Aku tidak meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku tidak percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya. Ruth ada di barisan depan dari anak2. Ia cepat2 maju, sambil menangis, ” Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia harus mengirim bonekanya juga!”

Sambil mengobrak-abrik bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah. Matanya berkilau ! Dia tidak pernah sangsi! Sambil melihatku, dia berkata : ” Dapatkah aku pergi bersamamu & memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu, Yesus sangat mencintainya? ?

Ternyata parcel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Dibungkus oleh Siswa Kelas Hari Mingguku, yang mana saat mempersiapkan parcel itu, Tuhan telah memerintahkannya juga untuk mengirimi botol air panas walaupun di daerah Tropis. Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan ke anak Afrika -

Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya “sore itu”.

(Yesaya 65:24) :
“Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah
mendengarkannya. ”


Kidung Sang Waktu

Posted in Celoteh Astrajingga on November 13, 2008 by narcistastrajingga

waktu selalu diam membisu…….

dd
dalam penyangkalan diri pencarian cinta.
pudarkan kenangan daam rasa sakit
tertikam Ego berkedok pengorbanan.
hai biduan biduan cinta !!!!!!
tabuhlah rebana itu diwaktu senja.
biarlah alunan kecapi merasuk dalam pingul tarianmu
teriakan kebencian dalam geliat tarian cinta.
hingga umpatan serapah mu mengalir dalam peluhmu.
habis..
dan bila malam kan datang.
tataplah matanya dalam cinta yang tersisa.
usaplah airmatanya.
karena cinta adalah miliknya.
yang dititipkanNya lewat kecupanmu.
habis…
hanya ada Cinta, Ia, dan DIA.
dan berharap waktu tak cepat berlalu.

tuk sebuah ciuman. yang tertunda.

ketika semua ingin jadi raja

Posted in Celoteh Astrajingga, Uncategorized on November 10, 2008 by narcistastrajingga

300px-little_nemo_king_morpheus_and_flip

Mamat belum makan, siang itu.

disudut kios tambal ban.

Matanya tak lepas dari Tv

lagi seorang calon raja berjanji membawa perubahan

seolah memiliki tangan Tuhan, untuk perbaiki bangsa ini.

mamat tertawa…

mamat terbahak…hingga air matanya menetes.

menatap kaus partai usang disudut jemuran.

satu janji yang tak pernah mereka tepati.

ketika semua ingin jadi Raja

ratusan juta rupiah menjadi atribut kampanye

lebih berharga dari pada ribuan piring kosong

tebar pesona pada perut perut yang lapar

seolah menjadi sosok yang paling bersih

mamat belum makan siang itu.

disudut kios tambal ban

menatap TV dan menanti.

seorang calon Raja yang berjanji….

Akan lebih banyak ban ban kempes di depan kiosnya.

*) foto :http://en.wikipedia.org/wiki/King_Morpheus