Archive for September, 2009

my way….

Posted in Uncategorized on September 18, 2009 by narcistastrajingga

dip10-hiker_39839gm-e

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, Ill say it clear,
Ill state my case, of which Im certain.


Ive lived a life thats full.
Ive traveled each and every highway;
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, Ive had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

Hiker heading up large sand dune at White Bluffs-Vert

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.


Yes, there were times, Im sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

hiker-silhouettes-1-big.jpg

Ive loved, Ive laughed and cried.
Ive had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.


To think I did all that;
And may I say – not in a shy way,
No, oh no not me,
I did it my way.

hiker-sil-3-big.jpg

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -

hiker-silhouettes-3-big.jpg
And did it my way!

…………., (2)

Posted in Celoteh Astrajingga on September 18, 2009 by narcistastrajingga

sunrise_over_mediterranean_sea

kembali dalam kesendirian

menatap senja yang beranjak malam

berkawan laut, matahari, dan camar yang pulang

mencari sisa bayangmu dalam deburan ombak

sekejap angin laut antarkan harum tubuh mu

saat kau tertawa di sisiku.

saat ku berkabung atas matinya cinta

tatapan mu mampu sembuhkan luka yang belum mengering

mungkin Tuhan kirim mu untuk ku

keluguanmu hancurkan kesombonganku

kerling manjamu hancurkan ego yang menahun

andai kamu tahu…..

sejak senja itu semuanya tak lagi sama

kumemiliki rindu yang kau tidak mengetahuinya

karena kau terlalu lugu untuk mengetahuinya.

terlalu muda tuk memahaminya

kembali dalam kesendirian

menatap senja yang beranjak malam

berkawan laut, matahari, dan camar yang pulang

berharap Tuhan sampaikan rindu ini untuk mu

…………,

Posted in Perjalanan Astrajingga on September 16, 2009 by narcistastrajingga

asian-girl-painting-017

dia datang senja itu….

harum seperti angin yang membawa bau rumput sehabis hujan

tanpa kata, tanpa cerita.

membiusku dalam hipnotis yang indah

dia tersenyum senja itu

cantik, seperti camar putih yang terbang menuju pelangi

tanpa kata, tanpa cerita.

dalam iringan tetabuhan detak jantungku

asian-girl-painting-001

dia menatapku senja itu….

hadirkan kehangatan dalam gerimis bandung yang dingin

seperti bintang, diantara gelap malam.

hempaskan keberanianku, walau hanya untuk menatapnya

Tuhan…katakan padanya,

bahwa dia begitu cantik senja itu…

kasih Ibu….

Posted in Uncategorized on September 11, 2009 by narcistastrajingga

Cinta-Ibu_1

Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak lelaki satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak kelakuan lainnya yang membuat si Ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Meskipun hidup anaknya dipenuhi oleh kejahatan, ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi.

Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.” Namun semakin lama kehidupan sang Anak semakin larut dalam perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang telah dilakukannya.

Suatu hari kembali ia mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun perbuatannya dipergoki oleh warga dan iapun tertangkap. Kemudian ia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan seringnya kejahatan yang dilakukannya, maka tanpa ampun lagi si Anak dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman hukuman tersebut disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat tepat pada saat lonceng gereja dibunyikan menandakan pukul enam pagi.

Berita itu sampai juga ke telinga sang Ibu. Dia menangis meratapi anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, ampunilah anak hamba. Biarlah hamba-Mu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya.” Dengan tertatih-tatih sang Ibu kemudian mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sang Raja sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukumannya. Dengan hati yang hancur si Ibu kembali ke rumah. Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni. Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong datang untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua. Tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng gereja tidak juga terdengar berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit terlewati dari batas waktu yang seharusnya. Akhirnya didatangilah petugas yang bertugas membunyikan lonceng gereja. Dia juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi suara dentangnya tidak terdengar.

Ketika mereka sedang terheran-heran karena keanehan yang sedang terjadi, tiba-tiba dari tali yang dipegangnya mengalir darah. Darah tersebut datangnya dari atas, dari tempat di mana lonceng diikat. Seluruh rakyat pun mulai berkumpul menyaksikan keanehan tersebut dan orangpun diutus untuk naik ke atas dan menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang mereka temukan? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh sang ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si Ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung yang akan dijalani anaknya.

Demikianlah, sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya betapapun jahatnya si anak. Marilah kita mengasihi orangtua kita masing-masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia. Sesuatu untuk dijadikan renungan bagi kita agar selalu mencintai sesuatu yang berharga dan tidak bisa dinilai dengan apapun.

ibu2

ilalang for you…

Posted in Perjalanan Astrajingga on September 10, 2009 by narcistastrajingga

ILALANG-2-ELLE

satu lagi musim berlalu

melewati padang ilalang senja itu.

tanpa kata, …beranjak perlahan

meninggalkan kisah yang tak tertulis…

namun tersimpan dalam tarian ilalang senja…

berharap malam kan renggut semua sepi….

membawa pagi dalam cerita yang baru.

walau terbungkam….

ku masih bisa mendengarnya,

saat ilalang menari…..

saat ilalang berbisik…..

tentang kisah yang tak pernah pergi.

namun tersimpan erat dalam tarian ilalang senja…

1280_1024_nature_wallpaper_106320843

pulang untukku…

Posted in Perjalanan Astrajingga on September 9, 2009 by narcistastrajingga

in_thy_tender_care_lawrence_l

kembali dalam persimpangan yang memabukkan.

meniti perjalanan dalam penantian.

sungguh tak mudah mengikuti jalan MU

mengikuti cara MU

mengikuti kasihMU ya Bapa

ku tak ingin menyakiti siapapun…

ku hanya ingin mengasihi.

dalam dunia kecil yang penuh damai…

ada tawa. kebahagiaan…bukan kesedihan dan keluh kesah.

pergumulan akan ketulusan seperti perang abadi.

tapi ku tahu…

Kau mencintaiku lebih dulu

Kau mengampuniku Lebih dulu

Kau mengasihiku lebih dulu…

bahkan Kau serahkan dirimu di atas kayu salib untuk selamatkan ku.

Ampuni aku yang masih gagal mengampuni

ampuni aku yang masih begumul dengan ketulusan

sentuh aku, genggam tanganku Bapa…

karena ku lebih memilih pulang kepada Mu…

dari pada nikmat yang memabukkan ini.

yang bukan dari pada MU.