Archive for the Celoteh Astrajingga Category

…………., (2)

Posted in Celoteh Astrajingga on September 18, 2009 by narcistastrajingga

sunrise_over_mediterranean_sea

kembali dalam kesendirian

menatap senja yang beranjak malam

berkawan laut, matahari, dan camar yang pulang

mencari sisa bayangmu dalam deburan ombak

sekejap angin laut antarkan harum tubuh mu

saat kau tertawa di sisiku.

saat ku berkabung atas matinya cinta

tatapan mu mampu sembuhkan luka yang belum mengering

mungkin Tuhan kirim mu untuk ku

keluguanmu hancurkan kesombonganku

kerling manjamu hancurkan ego yang menahun

andai kamu tahu…..

sejak senja itu semuanya tak lagi sama

kumemiliki rindu yang kau tidak mengetahuinya

karena kau terlalu lugu untuk mengetahuinya.

terlalu muda tuk memahaminya

kembali dalam kesendirian

menatap senja yang beranjak malam

berkawan laut, matahari, dan camar yang pulang

berharap Tuhan sampaikan rindu ini untuk mu

Kidung Sang Waktu

Posted in Celoteh Astrajingga on November 13, 2008 by narcistastrajingga

waktu selalu diam membisu…….

dd
dalam penyangkalan diri pencarian cinta.
pudarkan kenangan daam rasa sakit
tertikam Ego berkedok pengorbanan.
hai biduan biduan cinta !!!!!!
tabuhlah rebana itu diwaktu senja.
biarlah alunan kecapi merasuk dalam pingul tarianmu
teriakan kebencian dalam geliat tarian cinta.
hingga umpatan serapah mu mengalir dalam peluhmu.
habis..
dan bila malam kan datang.
tataplah matanya dalam cinta yang tersisa.
usaplah airmatanya.
karena cinta adalah miliknya.
yang dititipkanNya lewat kecupanmu.
habis…
hanya ada Cinta, Ia, dan DIA.
dan berharap waktu tak cepat berlalu.

tuk sebuah ciuman. yang tertunda.

ketika semua ingin jadi raja

Posted in Celoteh Astrajingga, Uncategorized on November 10, 2008 by narcistastrajingga

300px-little_nemo_king_morpheus_and_flip

Mamat belum makan, siang itu.

disudut kios tambal ban.

Matanya tak lepas dari Tv

lagi seorang calon raja berjanji membawa perubahan

seolah memiliki tangan Tuhan, untuk perbaiki bangsa ini.

mamat tertawa…

mamat terbahak…hingga air matanya menetes.

menatap kaus partai usang disudut jemuran.

satu janji yang tak pernah mereka tepati.

ketika semua ingin jadi Raja

ratusan juta rupiah menjadi atribut kampanye

lebih berharga dari pada ribuan piring kosong

tebar pesona pada perut perut yang lapar

seolah menjadi sosok yang paling bersih

mamat belum makan siang itu.

disudut kios tambal ban

menatap TV dan menanti.

seorang calon Raja yang berjanji….

Akan lebih banyak ban ban kempes di depan kiosnya.

*) foto :http://en.wikipedia.org/wiki/King_Morpheus

ketika BBM naik

Posted in Celoteh Astrajingga on May 27, 2008 by narcistastrajingga

pagi itu ketika BBM naik………

chika anakku, menanti air yang mengucur kecil di kran air kamar mandi, karena harus berbagi dengan 10 kepala keluarga di asrama kepolisian di sudut Jakarta.

“Papa kapan kita jalan ke Mall lagi?”

“Nanti sayang, kalau papa sudah punya uang”, jawabku sambil menatap bola matanya yang cantik.

sementara Istriku menghantarkan secangkir air putih.

“Gas habis mas, sekarang susah di cari.” bisiknya lirih.

Ku bergegas mandi tanpa Kopi.

pagi itu ketika BBM naik……..

Chika bermain dengan bonekanya yang sudah kumal.

“Papa mau jaga demo lagi ya ?”

“Nanti Papa Masuk Tv ? atau cuma kakak kakak Mahasiswa yang Masuk Tv?

aku hanya membalasnya dengan senyum getir.

Lastri Istriku menatap khawatir, ” Sampai kapan mereka demo Mas?”

” Entah lah dik” jawabku datar

” Hati hati mas, kulihat di Tv mereka lempari bom molotov”, serunya pelan.

ada ketakutan di matanya, seperti ketakutan di hatiku

“Hutang kita di warung depan sudah banyak mas, dan harga harga sudah naik.”

” Kita bayar saat terima gaji ya dik,”

Siang Itu ketika BBM Naik………

Mahasiswa marah dan semakin marah

mereka memblokir jalan dan membakar Ban

Matahari menyengat membakar kepala.

kucoba untuk tidak terpancing

walau ku marah karena kami di lempari batu

“Apa salahku ?” gumamku

“Bukan aku yang naikan BBM. kenapa Aku yang kalian lempari?”

“Tidak mengertikah kalian , bahwa aku disini hanya menjalankan Tugas”

“sama seperti kalian, aku pun kepanasan, kami pun lapar”

” Sama seperti kalian, aku pun mersakan naiknya harga harga”

“tugasku mengamankan jalannya demonstrasi agar tidak merusak”

“tugas kalian adalah meneriakkan suara nurani, suara moral, suara kaum yang terpelajar”

“Jangan lempari Kami dengan batu”

“Kami bukan Musuh Kalian”

sebuah batu melayang tepat ke wajahku

gelap,….

gelap,..

sepi,…

dalam gelap kulihat Chika bermain di padang rumput hijau

dalam gelap kulihat Lastri tersenyum cantik,

begitu cantik

begitu damai.

begitu tenang.

Sore Itu ketika BBM naik……..

empat jahitan di pelipis kiriku

dalam perjalanan pulang.

terbayang wajah lastri tersenyum manis…….

“Gas habis mas, sekarang susah di cari.” bisiknya lirih.

negeri Indonesia

Posted in Celoteh Astrajingga on May 21, 2008 by narcistastrajingga

dulu…

ibu melahirkanku di negeri ini.

negeri yang indah dan damai.

negeri yang makmur, negeri yang kaya.

negeri yang bernama Indonesia.

Ibu ajarkan ku ramah tamah dan toleransi

karena itu ciri budaya negeri ini.

santun dalam berkata dan menghormati yang tua

jujur dalam melangkah mewarisi sifat Luhur, sifat negeri Indonesia

ibu bercerita tentang lautan yang luas

hutan yang hijau, padi yang menguning.

terhampar di negeri impian bernama Indonesia

kini musim berganti

matahari terik membakar,

amarah hapuskan keramahan anak bangsa

santun dan toleransi menghilang

keserakahan membutakan nurani

hutan yang hijau tandus,

padi tak lagi menguning, nelayan tak lagi melaut

di suatu negeri yang bernama Indonesia

disudut negeri

ratusan jerigen mengantri seolah minyak bumi tak lagi untuk anak bangsa

saling bunuh demi sebungkus nasi

buruh buruh menjerit oleh beban hidup yang tinggi

anak anak bertajuk mahasiswa berteriak.

menyanyikan Indonesia Raya dengan amarah dan air mata.

di sudut negeri ini

istriku menatap layar televisi.

Demonstrasi, kekerasan, hedonisme, menjadi sajian utamanya

melihat mereka yang tertawa dalam suatu club malam

melihat mereka yang menangis karena suatu bencana

melihat mereka yang marah karena merasa tertindas

di suatu negeri yang bernama Indonesia

kini

dia menanti….

lahirnya anakku

yang akan tumbuh dan besar

di suatu negeri yang bernama Indonesia.

Saepudin bin Mahmud

Posted in Celoteh Astrajingga on March 26, 2008 by narcistastrajingga

disini
sabtu siang yang panas,
tempat tandus dipingiran dari pingiran kota.
diantara deru mesin dan kepulan debu
dengarkan nyanyian Amran dan Jalil
segelas kopi diatas traffo las
pesta kecil untuk lembur di hari sabtu

di sini
matahari begitu bersemangat
pancarkan panas nya. berbaur dengan bau logam panas yang terbakar.
antarkan senyum anakku.
jika kutepati janjiku. belikan baju pramuka .
oh lembur sabtu yang indah.

di sini.
akhirnya matahari pun capek.
tangan ku menari dalam setiap kawat las yang kutoreh.
sementara Jalil masih berdendang.
lagu melayu kenangan kita,
waktu jalan berdua di pinggir rel.
hingga kita membesarkan si mamat anak kita.

aku pulang sayang.
dengarkan keluh kesahmu
menatap bibirmu yang monyong.
kopi tanpa gula karena gula habis.
di istana kita yang pengap dan panas.
bahkan air sumurpun kering.
aku ada uang lembur,……..bisik ku lirih.

ku tahu bantalmu basah oleh air matamu.
kutatap punggungmu.
tunggakan warung matikan birahimu.
seolah kau tak mengerti.
beha mu yang tergantung di ujung ranjang.
tersenyum mengejek pada ku.

edi satpam selamatkan ku
datang bawa berita mesin pabrik yang rusak.
semboyan loyalitas antar ku kembali melangkah bekerja.
tanpa kecupan manis dari bibirmu.
hanya setengah gelas kopi dingin tanpa gula

di sini
di penghujung malam saat matahari terlelap
jalil menyambutku dengan giginya yang kuning.
senyum kemenangan.
jam lembur bertambah.
entah untuk apa……
entah untuk siapa…
baju pramuka, tunggakan warung, bayar kontrakkan?

yang pasti bukan untuk secangkir starbucks.

ibu Indonesia

Posted in Celoteh Astrajingga on May 8, 2007 by narcistastrajingga
people_main_image2.jpg 
air mata ibu mengalir.
anak tertuanya nakal.
dihukum resufle sang Ayah.
memakan kue milik adik adiknya.
hanya untuk perutnya sendiri.
airmata ibu mengalir,
tangisnya basahi pertiwi.
bencana turun silih berganti.
hiasan cinta yang telah mati.
anak bangsa penuh amarah
anak bangsa penuh kebencian.
anak bangsa penuh dendam.
membayar lalim dengan lalim.
airmata ibu mengalir.
terkenang anak yang telah pergi.
mati bekorban untuk sang ibu.
tinggalkan harum yang memudar.
tergeser spiderman dan harrypotter.
ibu bertanya,” tahukah kalian Jendral Sudirman ?”
anak menjawab, ” yang ada Ex danplaza Semanggi, kan bu?
ibu bertanya, ” kenal kah kalian WR Soepratman?”
anak menjawab, ” guru kimia?”
ibu bertanya, ” tahukah kalian Diponegoro?
anak terbungkam, diam.
seolah berfikir sambil menatap eminem di MTV.
ibu beranjak, ibu menangis.
menatap pusara yang masih basah
lagi, seorang anaknya mati overdosis.
bangsa ini masih sakit.
dijenguk oleh pasangan mesra artis dan anggota dewan.
dihibur film porno anggota dewan.
dinasihati cendikiawan yang hanya tahu membuat kritik.
menjadi badut badut hiburan masyarakat.
ibu tersedu,
airmatanya berlinang.
sang ayah datang memeluk, bisiknya ” jangan sedih…. besuk saya resufle-kan lagi”
ibu histeris dan berteriak: “Andai saja Aku Bisa Polygami”
Indonesia, 8 may 2007

malam

Posted in Celoteh Astrajingga on July 25, 2006 by narcistastrajingga
bulan.jpg

Mengalun sunyinya Malam

berbias sinar rembulan
langkahi penghuni bumi
yang hanya rindukan malam
tandai berikan janji.
selimuti jagat raya.
dalam gelapnya malam
hati pelan tenggelam
malam hanya lah malam
menyimpan rahasia sang rembulan.
Dengarkan malamberceloteh akan siang
biarkan malam menyusuri hati kita
lalu hampir tak bertangis sang malam semakin mengais
mengajak sang rembulan untuk beranjak dari keremangan
di gelap malam sunyi mencekam
bersandar gelap dekap menyekap
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.